Hari ini aku sama sekali nggak semangat menjalani aktivitasku seperti biasa. Sepanjang hari aku diam saja, sampai orang-orang kantor heran, kenapa suaraku hampir tak terdengar sepanjang hari. Jangankan mereka, aku saja bingung kenapa aku bisa begitu. Seharian ini yang aku pikirkan cuma dia, dia, dia..
Yang aku lakukan sepanjang hari cuma mengingat perjalanan-perjalanan yang pernah aku lalui bersamanya, sebelum aku pindah ke kota ini, sewaktu kami masih berada di dua kota yang berbeda. Dan aku ingin menuliskannya di sini.. Ya, nggak semua juga siiihh... :)
Aku ingat senyum manisnya saat kami bertemu di depan GII Dago, 22 April 2011, 3 bulan setelah pertemuan terakhir kami. Aku ingat, kami pergi ke Ciwalk, Rumah Mode, kemudian makan malam di Bebek Boromeus. Setelah itu aku menginap di kosan teman karena besok harus masuk kantor dan lembur.. (kasihan yaa.. )
Lalu aku ingat, bagaimana dia mengajakku menonton Karnaval di Kelapa Gading. Antara tidak niat dan tidak berani. Lucu juga sih, hahaha. (Sayangnya waktu itu aku belum punya aplikasi ScreenMuncher di blackberryku, jadi pesannya ga tersimpan deh.) Tapi aku akui, itu pertama kalinya aku menonton festival kembang api bersama seorang pria. Sampai-sampai semua temanku ikut heboh memilihkan baju demi suksesnya 'kencan' ku itu. Malam minggu yang menyenangkan memang. (14 Mei 2011)
Dalam kunjunganku kali itu ke Jakarta memang bertepatan dengan long weekend, sehingga cukup banyak perjalanan yang kami lalui. dan aku senang sekali bisa bersama dia dalam waktu yang cukup lama.
Bulan berikutnya ia kembali mengunjungiku ke Bandung, karena dia pernah bilang, "Kita gantian ya saling mengunjungi, kalo bulan ini aku ke Bandung, bulan depan kamu ke Jakarta, bulan berikutnya aku yang ke Bandung lagi." Kalau mendengar kalimat seperti itu, hubungan apa yang seharusnya ada di antara kami? Sahabat? Kayaknya sahabat pun nggak segitunya juga deh. Mulailah bunga-bunga itu mekar di hatiku.
Yang paling berkesan saat itu adalah perjalanan kami ke Lembang, Udara dingin yang begitu menusuk, dan foto berdua di hamparan pemandangan yang menyejukkan hati dan pikiran.. Sebenernya akan lebih lengkap kan kalau misalnya aku bisa memeluknya dari belakang. Hahaha. ( 3 Juni 2011)
Bulan Juli dan Agustus, aku sudah memiliki ScreenMuncher, jadi setiap kali dia mengirimkan pesan yang menurutku lucu, ataupun enak untuk diingat, aku menyimpannya, dan membacanya sewaktu-waktu aku rindu padanya dan ingin tersenyum.
Aku tak bisa melukiskan dengan kata-kata saat aku sedang mengingatnya, senyumannya, dan mencoba membayangkan mendengarkan suaranya sedang bicara kepadaku.. Aku sungguh-sungguh menikmati saat-saat bersama dengannya, seolah menginginkan semua itu nggak akan pernah berakhir.
Aku sayang padanya, dan entah mengapa hari ini pun aku merindukan keluarganya. Aneh ya...
Entah sampai kapan aku akan menyimpan rasa ini dalam hati. Meskipun aku merasa sebenernya dia tahu apa yang aku rasakan.. Tapi kan dimana-mana, wanita itu butuh kepastian.. Apakah sebenerya dia cuma menganggapku sahabat? Teman? Atau apa? Entahlah, aku pun tidak mengerti.
Aku cuma ingin dia kembali seperti masa-masa kami masih berjauhan dulu.. Aku rasa itu lebih menyenangkan..
Aku sayang dia Tuhan, aku sayang McD....
Kamis, 15 September 2011
Rabu, 14 September 2011
Rindu....
Mataku menatap kosong pada layar blackberry ku. Sejak pagi, ia pendiam sekali, tak ada tanda-tanda pesan dari orang yang aku tunggu.
Entah kenapa semenjak kepulanganku dari liburan itu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda, dan semakin jauh.Aku tak tahu apakah itu sekedar perasaanku saja yang terlalu mendramatisir, atau memang kenyataanya begitu. Wanita ini kan intuisinya hampir selalu benar...
Seperti yang terjadi hari ini, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Semenjak dia mengikuti kegiatan di kampus, dia seolah-olah tak terjangkau.
Sulit sekali rasanya untuk bisa berkomunikasi lancar dengannya. :(
Ingin rasanya aku yang menyapanya terlebih dahulu, bertanya bagaimana keadaannya hari ini.
Memberinya semangat untuk melewati semua kegiatan hari ini meskipun ia enggan, dan sedikit bercanda untuk melepaskan ketegangan dan membuatku tersenyum.
Ya, aku rindu. Rindu sekali..
Setiap kali aku mengambil blackberry-ku, membuka menu Messenger, mencari namanya, dan mulai mengetik pesan, pada akhirnya aku hanya akan menghapus semuanya, dan tidak jadi melakukan hal itu.
Huh, aku ini bodoh atau apa sih..
Di satu sisi aku memang merasa rindu, namun di sisi lain, aku ingin tahu, bagaimana sebenarnya posisiku di hatinya.
Apakah dengan tidak adanya berita dariku ia akan mencariku dan menanyakan kabarku, atau mungkin malah sebaliknya, cuek bebek, seolah tidak ada yang hilang dari dirinya.
Sampai pukul 3 sore, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan itu. Aku sedih. Aku sangat berharap aku mempunyai arti di hatinya. Namun sepertinya kenyataan berkata lain.. Aku hanya bisa bermain-main dengan layar facebook, dan iseng membuka notes-notes yang pernah kutuliskan dulu. Dan, mataku berhenti pada satu catatan yang pernah disukainya. Catatan itu berisi tentang tanda-tanda cowok yang siap berkomitmen.
Dan entah mengapa aku merasa, aku sedang dibawa dalam perjalanan yang mengarah ke tanda-tanda itu.
Aku memang tak mau muluk-muluk berharap, mengingat sekarang saja aku merasa dia "menjauh".
Aku cuma ingin dia kembali seperti sebelum kami berlibur, aku rindu dia yang dulu.
Aku rindu semua pesan pagi harinya yang selalu membuatku tersenyum.
Aku rindu pertanyaannya kalau aku sedang ada masalah.
Aku rindu kecerewetan-kecerewetannya dalam mengomentari sesuatu.
Aku rindu kecemburuan (jika bisa dikatakan begitu) saat aku pergi makan siang dengan temanku.
Aku rindu semua yang ada padanya, DULU.
Aku cuma mau dia kembali seperti itu.
Kembalilah.
Aku merindukanmu.....
Entah kenapa semenjak kepulanganku dari liburan itu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda, dan semakin jauh.Aku tak tahu apakah itu sekedar perasaanku saja yang terlalu mendramatisir, atau memang kenyataanya begitu. Wanita ini kan intuisinya hampir selalu benar...
Seperti yang terjadi hari ini, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Semenjak dia mengikuti kegiatan di kampus, dia seolah-olah tak terjangkau.
Sulit sekali rasanya untuk bisa berkomunikasi lancar dengannya. :(
Ingin rasanya aku yang menyapanya terlebih dahulu, bertanya bagaimana keadaannya hari ini.
Memberinya semangat untuk melewati semua kegiatan hari ini meskipun ia enggan, dan sedikit bercanda untuk melepaskan ketegangan dan membuatku tersenyum.
Ya, aku rindu. Rindu sekali..
Setiap kali aku mengambil blackberry-ku, membuka menu Messenger, mencari namanya, dan mulai mengetik pesan, pada akhirnya aku hanya akan menghapus semuanya, dan tidak jadi melakukan hal itu.
Huh, aku ini bodoh atau apa sih..
Di satu sisi aku memang merasa rindu, namun di sisi lain, aku ingin tahu, bagaimana sebenarnya posisiku di hatinya.
Apakah dengan tidak adanya berita dariku ia akan mencariku dan menanyakan kabarku, atau mungkin malah sebaliknya, cuek bebek, seolah tidak ada yang hilang dari dirinya.
Sampai pukul 3 sore, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan itu. Aku sedih. Aku sangat berharap aku mempunyai arti di hatinya. Namun sepertinya kenyataan berkata lain.. Aku hanya bisa bermain-main dengan layar facebook, dan iseng membuka notes-notes yang pernah kutuliskan dulu. Dan, mataku berhenti pada satu catatan yang pernah disukainya. Catatan itu berisi tentang tanda-tanda cowok yang siap berkomitmen.
Dan entah mengapa aku merasa, aku sedang dibawa dalam perjalanan yang mengarah ke tanda-tanda itu.
Aku memang tak mau muluk-muluk berharap, mengingat sekarang saja aku merasa dia "menjauh".
Aku cuma ingin dia kembali seperti sebelum kami berlibur, aku rindu dia yang dulu.
Aku rindu semua pesan pagi harinya yang selalu membuatku tersenyum.
Aku rindu pertanyaannya kalau aku sedang ada masalah.
Aku rindu kecerewetan-kecerewetannya dalam mengomentari sesuatu.
Aku rindu kecemburuan (jika bisa dikatakan begitu) saat aku pergi makan siang dengan temanku.
Aku rindu semua yang ada padanya, DULU.
Aku cuma mau dia kembali seperti itu.
Kembalilah.
Aku merindukanmu.....
Selasa, 13 September 2011
Aku Mencintaimu, dan itu Cukup.
Pernahkah kaliam merasakan indahnya jatuh cinta?
Pernahkah kalian merasakan indahnya kebersamaan dengan orang yang kalian sayangi yang membuat hatimu berbunga-bunga, dan seolah-olah dibawa terbang ke langit ke tujuh?
Aku pernah, dan Aku sedang mengalaminya sekarang.
Aku, jatuh cinta pada orang yang kuanggap sahabatku sendiri.
Payah memang.
Namun benar apa yang dikatakan oleh pepatah, seorang pria dan seorang wanita tidak akan pernah bisa bersahabat secara murni. Pasti ada yang terjebak dengan perasaanya sendiri di dalamnya, dan aku rasa itulah yang aku alami saat ini..
Witing tresno jalaran soko kulino,
Rasa cinta timbul karena sering bertemu.
Aku rasa ungkapan ini yang paling tepat untuk menjelaskan kenapa aku bisa jatuh hati padanya.
Frekuensi komunikasi kami yang terbilang cukup intens, menggoyahkan benteng pertahanan hatiku yang dulu berjanji tidak akan jatuh hati padanya. Kenyataannya, aku menjilat ludahku sendiri.
Aku tak tahu bagaimana sesungguhnya perlakuannya padaku, tapi yang pasti, aku sayang sekali padanya.
Rasanya kalau sehariiiiii saja tidak ada komunikasi, pasti ada yang kurang.
Ingin rasanya mengungkapkan perasaan hati ini kepadanya, dan berharap gayung bersambut.
Tapi aku sendiri tidak yakin kami berdua memiliki perasaan yang sama.
Aku takut dia hanya menganggapku sebagai sahabat...
Aku takut semuanya akan hancur berantakan kalau dia tahu.
Ingin rasanya berkata : You means a lot to me...
Thanks 4 making me smile everyday,
And thanks 4 being there when I need you..
Tapi setiap kali ingin mengetiknya jariku kaku, dan setiap kali ingin mengucapkannya, lidahku mendadak kelu.
Semua tertahan di ujung bibir ini tanpa mampu terucapkan.
Aku memang ingin berada di sisinya selalu, menjadi orang yang berarti dalam hidupnya,
Namun aku pun mungkin akan bahagia apabila dia hanya menganggapku sebagai sahabat,
tempat ia mencurahkan segala isi hatinya.
Asalkan aku bisa berada di dekatnya, melihat senyumnnya, dan mendengar suaranya, itu cukup bagiku..
Toh pepatah mengatakan : Cinta tak harus memiliki, kan??
Aku mencintaimu, dan itu Cukup.
:')
Pernahkah kalian merasakan indahnya kebersamaan dengan orang yang kalian sayangi yang membuat hatimu berbunga-bunga, dan seolah-olah dibawa terbang ke langit ke tujuh?
Aku pernah, dan Aku sedang mengalaminya sekarang.
Aku, jatuh cinta pada orang yang kuanggap sahabatku sendiri.
Payah memang.
Namun benar apa yang dikatakan oleh pepatah, seorang pria dan seorang wanita tidak akan pernah bisa bersahabat secara murni. Pasti ada yang terjebak dengan perasaanya sendiri di dalamnya, dan aku rasa itulah yang aku alami saat ini..
Witing tresno jalaran soko kulino,
Rasa cinta timbul karena sering bertemu.
Aku rasa ungkapan ini yang paling tepat untuk menjelaskan kenapa aku bisa jatuh hati padanya.
Frekuensi komunikasi kami yang terbilang cukup intens, menggoyahkan benteng pertahanan hatiku yang dulu berjanji tidak akan jatuh hati padanya. Kenyataannya, aku menjilat ludahku sendiri.
Aku tak tahu bagaimana sesungguhnya perlakuannya padaku, tapi yang pasti, aku sayang sekali padanya.
Rasanya kalau sehariiiiii saja tidak ada komunikasi, pasti ada yang kurang.
Ingin rasanya mengungkapkan perasaan hati ini kepadanya, dan berharap gayung bersambut.
Tapi aku sendiri tidak yakin kami berdua memiliki perasaan yang sama.
Aku takut dia hanya menganggapku sebagai sahabat...
Aku takut semuanya akan hancur berantakan kalau dia tahu.
Ingin rasanya berkata : You means a lot to me...
Thanks 4 making me smile everyday,
And thanks 4 being there when I need you..
Tapi setiap kali ingin mengetiknya jariku kaku, dan setiap kali ingin mengucapkannya, lidahku mendadak kelu.
Semua tertahan di ujung bibir ini tanpa mampu terucapkan.
Aku memang ingin berada di sisinya selalu, menjadi orang yang berarti dalam hidupnya,
Namun aku pun mungkin akan bahagia apabila dia hanya menganggapku sebagai sahabat,
tempat ia mencurahkan segala isi hatinya.
Asalkan aku bisa berada di dekatnya, melihat senyumnnya, dan mendengar suaranya, itu cukup bagiku..
Toh pepatah mengatakan : Cinta tak harus memiliki, kan??
Aku mencintaimu, dan itu Cukup.
:')
Senin, 12 September 2011
Hukum Tabur - Tuai
Pernahkah kalian mendengar mengenai hukum tabur - tuai? Atau mungkin yang lebih sering disebut orang dengan Karma.
Hukum ini berbunyi "Sebab apa yang kamu tabur, itu yang akan kamu tuai."
Intinya : jika kita melakukan yang baik kepada orang lain, maka yang baik pula yang akan kita terima, begitu pula sebaliknya, jika kita melakukan yang tidak baik kepada orang lain, maka yang tidak baik pula yang akan kita terima.
Seringkali kita 'tahu' teorinya, tapi selalu lupa dalam pelaksanaannya.
Misalkan : A diminta bantuan oleh B untuk membawakan barang, tapi dia menolak. Mungkin pada saat itu B tidak kesal, dan membiarkan hal tersebut berlalu begitu saja. Namun suatu saat, ketika A meminta tolong kepada C, untuk melakukan hal yang sama, dan C menolak, A marah. Dia tidak menyadari bahwa konsekuensi dari perbuatannya dulu adalah hal yang dialaminya sekarang. Itu hanya contoh dalam ruang lingkup yang kecil..
Dalam skala yang lebih besar, kita bisa melihat di lingkungan sekitar kita. Entah itu keluarga kita, lingkungan sekolah, pekerjaan, dan lain sebagainya...
Hukum ini berbunyi "Sebab apa yang kamu tabur, itu yang akan kamu tuai."
Intinya : jika kita melakukan yang baik kepada orang lain, maka yang baik pula yang akan kita terima, begitu pula sebaliknya, jika kita melakukan yang tidak baik kepada orang lain, maka yang tidak baik pula yang akan kita terima.
Seringkali kita 'tahu' teorinya, tapi selalu lupa dalam pelaksanaannya.
Misalkan : A diminta bantuan oleh B untuk membawakan barang, tapi dia menolak. Mungkin pada saat itu B tidak kesal, dan membiarkan hal tersebut berlalu begitu saja. Namun suatu saat, ketika A meminta tolong kepada C, untuk melakukan hal yang sama, dan C menolak, A marah. Dia tidak menyadari bahwa konsekuensi dari perbuatannya dulu adalah hal yang dialaminya sekarang. Itu hanya contoh dalam ruang lingkup yang kecil..
Dalam skala yang lebih besar, kita bisa melihat di lingkungan sekitar kita. Entah itu keluarga kita, lingkungan sekolah, pekerjaan, dan lain sebagainya...
Minggu, 11 September 2011
Ketika berada di persimpangan Jalan..
Jalan kehidupan yang kita lalui memang sering kali tidak mulus, banyak kerikil-kerikil kecil yang berceceran di sepanjang jalan yang tak jarang membuat kita tersandung dan terjatuh...
Selain itu, seringkali kita diperhadapkan pada pilihan yang sulit atau bahkan sangat sulit yang membuat kita kebigungan untuk mengambil suatu keputusan. Kita seringkali ragu dan takut. apakah keputusan yang kita ambil sudah benar atau salah, bagaimana dampaknya di kemudian hari, juga terhadap lingkungan sekitar kita, terlebih-lebih diri kita sendiri. Suatu keberanian untuk mengambil resiko juga diperlukan disini.
Saat-saat pengambilan keputusan biasanya merupakan saat-saat yang membuat hati galau, membuat seseorang enggan melangkah setapak pun. Seolah berdiri di depan pintu dan sudah memegang kuncinya namun tidak berani membuka, karena tidak tahu atau bahkan tidak ingin tahu apa yang ada di balik pintu itu.
Aku baru saja mengalaminya.
Ketika aku sudah merasa nyaman berada di dekat seorang lelaki yang bisa aku anggap sebagai sahabat,
ada suatu kenyataan mengejutkan yang aku ketahui belum lama ini.
Dan menurutku itu sesuatu hal yang tidak bisa dianggap tidak penting.
Ketika Anda dekat dengan lawan jenis Anda, pasti ada rasa ingin tahu dan ingin mengenal keluarganya, bukan?
Begitu pula dengan yang aku alami...
Aku bertemu dengan keluarganya tanpa disengaja, dan sedikit berbincang dengan kakaknya.
Kalau dalam situasi seperti itu, apa yang kalian harapkan untuk kalian dengar? Ya, tentu saja hal-hal yang baik bukan?
Namun hal-hal yang baik apabila tidak mengandung kejujuran pun tidak ada gunanya..
Dan itulah yang aku rasakan..
Ketika harus mendengar bahwa aku tidak boleh terlalu banyak berharap, mungkin terasa sakit dan perih, tapi itu jujur.
Tapi kalo aku mau memandang sisi positifnya, justru aku berterima kasih karena aku diingatkan dari awal, sehingga aku dapat berusaha menata hati.
Dan disinilah aku berada sekarang,
Di persimpangan jalan, yang aku sendiri tak tahu arah mana yang harus aku ambil.
Apakah aku akan terus maju dengan segala konsekuensi yang ada, atau aku berbalik arah, dan melepaskan semua yang sudah terlewati selama ini...
Atau menyimpang, dan mengambil jalur lain yang masih harus kupikirkan..
Semuanya terasa begitu sulit. Aku yang memegang kuncinya, namun aku yang enggan membuka salah satu pintu yang tersedia...
Aku hanya berharap, jalan yang kuambil tidak salah....
Selain itu, seringkali kita diperhadapkan pada pilihan yang sulit atau bahkan sangat sulit yang membuat kita kebigungan untuk mengambil suatu keputusan. Kita seringkali ragu dan takut. apakah keputusan yang kita ambil sudah benar atau salah, bagaimana dampaknya di kemudian hari, juga terhadap lingkungan sekitar kita, terlebih-lebih diri kita sendiri. Suatu keberanian untuk mengambil resiko juga diperlukan disini.
Saat-saat pengambilan keputusan biasanya merupakan saat-saat yang membuat hati galau, membuat seseorang enggan melangkah setapak pun. Seolah berdiri di depan pintu dan sudah memegang kuncinya namun tidak berani membuka, karena tidak tahu atau bahkan tidak ingin tahu apa yang ada di balik pintu itu.
Aku baru saja mengalaminya.
Ketika aku sudah merasa nyaman berada di dekat seorang lelaki yang bisa aku anggap sebagai sahabat,
ada suatu kenyataan mengejutkan yang aku ketahui belum lama ini.
Dan menurutku itu sesuatu hal yang tidak bisa dianggap tidak penting.
Ketika Anda dekat dengan lawan jenis Anda, pasti ada rasa ingin tahu dan ingin mengenal keluarganya, bukan?
Begitu pula dengan yang aku alami...
Aku bertemu dengan keluarganya tanpa disengaja, dan sedikit berbincang dengan kakaknya.
Kalau dalam situasi seperti itu, apa yang kalian harapkan untuk kalian dengar? Ya, tentu saja hal-hal yang baik bukan?
Namun hal-hal yang baik apabila tidak mengandung kejujuran pun tidak ada gunanya..
Dan itulah yang aku rasakan..
Ketika harus mendengar bahwa aku tidak boleh terlalu banyak berharap, mungkin terasa sakit dan perih, tapi itu jujur.
Tapi kalo aku mau memandang sisi positifnya, justru aku berterima kasih karena aku diingatkan dari awal, sehingga aku dapat berusaha menata hati.
Dan disinilah aku berada sekarang,
Di persimpangan jalan, yang aku sendiri tak tahu arah mana yang harus aku ambil.
Apakah aku akan terus maju dengan segala konsekuensi yang ada, atau aku berbalik arah, dan melepaskan semua yang sudah terlewati selama ini...
Atau menyimpang, dan mengambil jalur lain yang masih harus kupikirkan..
Semuanya terasa begitu sulit. Aku yang memegang kuncinya, namun aku yang enggan membuka salah satu pintu yang tersedia...
Aku hanya berharap, jalan yang kuambil tidak salah....
Langganan:
Postingan (Atom)